Rabu, 07 November 2012

Uji Efektifitas Antara Pemberian Air Buah Kelapa dengan Nacl 0,9% dengan menggunakan Kompres dalam proses penyembuhan luka pada tikus putih


BAB I
PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang (Tawi.2008). Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (Mansjoer, 2007)
Tubuh memiliki sistem pertahanan diri untuk mengatasi luka yang timbul akibat dari cedera melalui beberapa fase proses penyembuhan luka (Wijaya, 2010). Dalam proses penyembuhan luka, terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi proses kesembuhan luka.Satu diantara faktor yang mempengaruhi kesembuhan luka tersebut ialah nutrisi. Nutrisi menyediakan zat-zat yang dibutuhkan untuk aktivitas sel dalam proses penyembuhan luka. Nutrisi yang cukup dapat meningkatkan sistem imun serta mencegah infeksi pada luka (Bryant & Denise, 2007). Nutrisi juga terlibat dalam proses imun seperti respon antibodi, migrasi lekosit ke luka, dan pembuangan pada produk yang tidak dipakai dari lekosites dan mengkontribusi ukuran dan jumlah limfosites dan killer T-cells (Suriadi, 2011)
Metode perawatan luka berkembang cepat dalam 20 tahun terakhir, jika tenaga kesehatan dan pasiennya memanfaatkan terapi canggih yang sesuai dengan perkembangan, akan memberikan dasar pemahaman yang lebih besar terhadap pentingnya perawatan luka. Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat luka stabil dengan perkembangan granulasi jaringan yang baik dan suplai darah yang adekuat, hanya cara tersebut yang membuat penyembuhan luka dapat tercapai dengan sempurna. Untuk memulai perawatan luka, pengkajian awal yang harus dijawab adalah, apakah luka tersebut bersih, atau ada jaringan nekrotik yang harus dibuang, apakah ada tanda klinik yang memperlihatkan masalah infeksi, apakah kondisi luka kelihatan kering dan dapat resiko kekeringan pada sel, apakah absorbsi atau drainage objektif terhadap obat topieal dan lain-lain (Agustina, 2007).
Sodium Klorida (NaCl) secara umum digunakan untuk irigasi (seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka). Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. (DI 2003 hal 2555).
Sampai saat sekarang ini pada umumnya banyak klinik-klinik dan juga RS yang masih menggunakan Nacl 0,9% yang sudah tidak asing lagi dalam melakukan perawatan luka baik untuk luka akut maupun kronik. Menurut Rosyadi (2008) NaCl ini merupakan cairan Isotonik dan juga merupakan cairan garam fisiologis baik digunakan untuk pembersih, pembasuh dan kompres pada luka, NaCl memiliki komposisi dan konsentrasi cairannya yang hampir sama dengan cairan tubuh sehingga tidak mengiritasi pada jaringan. Namun pada prinsipnya semua penggunaan topical therapy tersebut adalah untuk memberikan proses penyembuhan pada luka yang efektif. http://repository.unand.ac.id/5774/1/IMG_NEW.pdf (diakses 25 juni 2012).
Air kelapa juga dikenal sebagai obat tradisional kuno yang sangat efektif dalam membasmi berbagai jenis cacing merugikan di dalam usus. Juga sangat baik diminum di pagi hari sebelum mengonsumsi makanan lainnya. Hal itu sangat dianjurkan dilakukan bagi penderita gastritis atau hyperacidity.
Di Filipina, air kelapa dimanfaatkan untuk proses pembuatan minuman, jelly, alkohol, dektran, cuka, dan nata de coco. Di Indonesia, air kelapa digunakan sebatas sebagai minuman (air kelapa muda) dan media pembuatan nata de coco. Yang tak kalah menarik, air kelapa juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional dan perawatan kecantikan. Sementara itu, daging buah kelapa muda yang masih seperti susu sangat baik dikonsumsi anak-anak yang menderita kekurangan gizi (nutritional defyciency).
Di samping itu, air kelapa sangat bermanfaat dalam pengobatan colitis, luka dalam lambung, diare, disentri, dan wasir. Air kelapa dapat pula mengatasi kerusakan sistem saluran cerna seperti mengurangi gas dalam lambung, mual-mual, dan salah cerna. (Hakimah,2010). (http://farmasikendari.Blogspot.Com/2011/08/isi-kti-imam.HtmlDiakses 17 juli 2012).
Air kelapa mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein, lemak, gula, sejumlah vitamin, asam amino dan hormon pertumbuhan. Jenis gula yang terkandung glukosa, fruktosa, sukrosa dan sorbitol, yang sangat membantu penyembuhan luka.
Berdasarkan latar belakang diatas, air kelapa dan NaCl 0,9 % sama-sama efektif untuk mempercepat penyembuhan luka. Tetapi sampai saat ini, belum pernah dilakukan penelitian untuk membuktikan manakah yang lebih efektif dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik dan perlu melakukan penelitian dengan tema “Uji Efektifitas Antara pemberian Air Kelapa dengan NaCl 0,9% dalam Proses Penyembuhan Luka Pada Tikusn Putih.
1.2      Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Manakah yang lebih efektif antara pemberian air kelapa dan NaCl 0,9% menggunakan kompres dalam proses penyembuhan luka pada tikus putih?”
1.3      Tujuan Penelitian
1.3.1     Tujuan Umum
Mengidentifikasi perbedaan kecepataan antara penggunaan tipe Air kelapa dan NaCl dalam proses penyembuhan luka pada tikus putih

1.3.2     Tujuan Khusus
Mengidentifikasi tingkat keefektivitasan penggunaan air kelapa dan NaCl 0,9% dalam proses penyembuhan luka pada tikus putih.
1.4       Manfaat Penelitian
1.4.1     Bagi Pendidikan
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan terkait proses penyembuhan luka dan upaya penyembuhannya dengan menggunakan Air kelapa dan NaCl 0,9% menggunakan kompres dalam proses penyembuhan luka
1.4.2     Bagi Pembaca
Untuk mengetahui keefektifan antara Air kelapa dan NaCl 0,9% menggunakan kompres dalam proses penyembuhan luka
1.4.3     Bagi Peneliti
Untuk menguji dan menemukan hal baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama dibidang luka dan penggunanaan Air kelapa dan NaCl 0,9% menggunakan kompres dalam proses penyembuhan luka.



BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Teori Luka
Penyembuhan luka adalah suatu proses yang kompleks dengan melibatkan banyak sel. Proses yang dimaksudkan disini karena penyembuhan luka melalui beberapa fase. Fase tersebut meliputi ; koagulasi, inflamasi, proliferasi, dan fase remodeling  (Suriadi, 2007).
2.1.1     Fase Koagulasi
Pada fase koagulasi merupakan awal proses penyembuhan luka dengan melibatkan platelet. Kemudian segera setelah injuri,  pembentukan suatu flug fibrin dan sel-sel radang dan dengan cepat masuk kedalam luka (Hunt TK, 2003). Flug fibrin yang terdiri dari platelet yang sebagian besar polymerase fibrinogen (fibrin), fibronectin, vitronectin dan trombospondin dalam suatu rangkaian kerje yang saling berhubungan ; hal tersebut segera memerangi bakteri dan juga peran yang lain (falanga V, 2005). Awal pengeluaran platelet akan menyebabkan vasokontriksi, dan terjadi koagulasi. Norepinephrin disekresikan oleh pembuluh darah, dan serotonin oleh platelet dan sel mast bertanggung jawab pada vasokontriksi (Gogia PP, 1995).
Untuk proses koagulasi ini ada manfaatnya, akan tetapi pada perlukaan yang berat seperti luka bakar yang luas, akan berdampak negatif pada suplai darah yaitu bila terjadi koagulasi dapat mengakibatkan iskemik pada jaringan. Setelah pembentukan pembekuan fibrin, mekanisme lain diaktifkan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh; fibrinolisis yang melisiskan bekuan fibrin. Proses ini adalah untuk mencegah bekuan lebih lanjut memudahkan migrasi sel kedalam area luka dan atau memulai fase penyembuhan selanjutannya.
2.1.2     Fase Inflamasi
Fase inflamsi mulainya dalam beberapa menit setelah luka dan kemudian dapat berlangsung sampai beberapa hari. Selama fase ini, sel-sel inflammatory terikat dalam luka dan aktif melakukan pergerakan dengan lekosites. Yang pertama kali muncul dalam luka adalah neutrofil. Mengapa neutrophil, karena densitasnya lebih tinggi dalam bloostrem.
Kemudian neutrophil akan mempagosit dan membunuh bakteri dan masuk ke matriks fibrin dalam persiapan untuk jaringan baru. Kemudian dalam waktu yang singkat mensekresi mediator vasodilatasi dan sitokinin yang mengaktifkan fibroblast dan krea tinocytes dan meningkatkan makrofag ke dalam luka. Apabila tidak ada infeksi dan kontaminasi pada inflamasi, maka akan cepat terjadi fase proliferasi.
2.1.3     Fase profelirasi
Pada fase profelirasi ini terjadi proses granulasi dan kontraksi. Fase proliferasi ditandai dengan pembentukan jaringan granulasi dalam luka, pada fase ini makrofag dan lymphocytes masih ikut berperan, tipe sel predominan mengalami proliferasi dan migrasi termasuk sel epithelial, fibroblast, dan sel endothelial. Proses  ini tergantun pada metabolic, konsentrasi oksigen dan factor pertumbuhan. Pada fase proliferasi biasanya mulainya 3 hari setelah injuri. Dalam beberapa jam setelah in juri, terjadi epitelialisasi dimana epidermal yang mencakup sebagian besar keratinocytes mulai bermigrasi dan mengalami stratifikasi dan deferensiasi untuk menyusun kembali fungsi barrier epidermis.
Pada fase proliferasi fibroblast adalah mencakup elemen sintetik utama dalam proses perbaiakan dan berperan daalam produksi struktur protein yang digunakan selama rekonstruksi jaringan. Secara khusus fibroblast biasanya akan tampak pada sekeliling luka. Kemudian pada fase selanjutnya, adaalah kontraksi luka, kontraksi luka disini adalah berfungsi dalam memfasilitasi penutupan luka.
2.1.4     Fase Penyudahan (Remodelling)
Pada fase remodeling yaitu banyak terdapat komponen matrik , komponen hyaluronic acid, proteoglycan, dan kolagen yang berdeposit selama perbaikan untuk memudahkan perekatan pada migrasi seluler dan menyokong jaringan. Serabut-serabut kolagen secara bertahap dan bertambah tebal kemudian disokong oleh proteinase untuk perbaikan sepanjang garis luka. Kolagen menjadi unsure yang utama pada matrik. Serabut kolagen menyebar dengan saling terikat dan menyatu dan berangsur-angsur menyokong pemulihan jaringan. Remodeling kolagen selama pembentukan  skor tergantung pada sintesis dan katabilisme kolagen secara terus-menerus.
2.2  Peran Nutrisi Dalam Penyembuhan Luka
Nutrisi adalah aspek yang paling penting dalam pencegahan dan pengobatan pada luka. Oleh karena itu pengkajian nutrisi dalam perawatan luka adalah kunci untuk intervensi. Berdasarkan pengkajian, intervensi nutrisi harus terseleksi sehingga diharapkan tepat dalam penanganannya. Menurut Suriadi (2007)Terdapat 6  kelas nutrisi yang utama yaitu :
2.2.1     Karbohidrat
Pemasukan yang adekuat pada karbohidrat akan memberikan dukungan aktivitas normal seluler seperti produksi fibroflastik dan pergerakan, aktivitas lekosit, mitosis, sintesis protein dan sekresi hormon dan faktor pertumbuhan.
2.2.2     Protein
Lymphocytes, leukocytes, phagocytes, monocytes, dan makrofag adalah system sel imun yang pada umumnya terdiri dari protein dan dibutuhkan untuk respon inflamasi pada awal dalam proses penyembuhan.
2.2.3     Lemak
Lemak memberikan sumber konsentrasi kalori, dan bagian esensial pada membrane sel, sebagai prekusor untuk prostaglandin (mengatur berbagai macam aktivitas dala inflamasi seluler dan metabolisme), dan menkontribusi pada signal patway sel lokal dan sistemik. Defisiensi lemak esensial mengurangi immunocompetence.
2.2.4     Vitamin dan Mineral
Vitamin C pada luka sangat diperlukan untuk optimal respon imun, mitosis sel dan migrasi monosit ke dalam jaringan yang mentransformasi ke dalam makrofag selama fase inflamasi pada penyembuhan luka.
2.2.5     Vitamin A
Vitamin A akan bermanfaat pada luka yang memediasi imun untuk perbaikan sel imun yang diperlukan untuk debridement pada luka, fibroflasia dan epitelialisasi dan perbaikan sitesis kolagen.
2.2.6     Vitamin B
Thiamine, riboflavin, pyridoxine (vitamin B6), folic acid, dan pantithenate adalah vitamin B yang membantu pembentukan lekosit, partisipasi yang diperlukan dalam proses metabolik dengan memberikan energi yang dibutuhkan untuk proses anabolik pada penyembuhan luka dan kofaktor esensial dalam aktivitas enzim.


2.2.7     Vitamin E dan K
Walaupun vitamin E juga merupakan antioksidan dan bertanggung jawab untuk metabolisme normal lemak dan sintesis kolagen. Kekurangan vitamin E tidak tampak berperan aktif perannya dalam penyembuhan luka. Vitamin K adalan esensial dalam proses pembekuan akan tetapi sedikit dalam mengkontribusi penyembuhan luka.
2.2.8     Zat Besi
Unsur ini diperlukan untuk mengoptimalkan perfusi jaringan dengan transfortasi oksigen ke jaringan yang diperlukan untuk sintesis kolagen.
2.2.8.1   Zinc
Zinc adalah mineral esensial yang hampir terdapat setiap sel dan sangat penting dalam penyembuhan luka di fase inflamasi, menghasilkn antibodi dan aktivasi limfosit.
2.3  Air Kelapa
            Air kelapa adalah cairan buah yang  terdapat pada bagian dalam buah kelapa. sutarminingsih (2004).  Air kelapa kerap diasumsikan sebagai limbah atau paling banter sebagai air segar pengusir dahaga. Padahal, ia memiliki khasiat dan nilai gizi yang dahsyat. Banyak sekali manfaat air kelapa bila diolah dan dikemas dengan baik. Air kelapa bisa dibuat sebagai nata de coco, kecap, dan bahkan dijadikan salah satu minuman kesehatan semacam energi drink. Di samping itu, air kelapa sangat bermanfaat dalam pengobatan colitis, luka dalam lambung, diare, disentri, dan wasir. Air kelapa dapat pula mengatasi kerusakan sistem saluran cerna seperti mengurangi gas dalam lambung, mual-mual, dan salah cerna (Hakimah, 2010).
2.3.1     Kandungan Nutrisi Pada Air Kelapa
Air kelapa mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein, lemak, karbonhidrat, gula, sejumlah vitamin, asam vitamin dan hormon pertumbuhan. Kandungan gula maksimal, yaitu 3 gram per 100 ml air kelapa. Tercapai pada bulan keenam umur buah. Kemudian menurun dengan semakin tuanya kelapa. Jenis gula yang terkandung glukosa, fruktosa, sukrosa, dan sorbitol (Astawan, 2007).
Susunan zat gizi yang terkandung pada air kelapa sangat mendekati komposisi cairan isotonik, yaitu cairan yang sangat sesuai dengan cairan tubuh. Itulah sebabnya cairan isotonik saat ini banyak diperjual belikan sebagai salah satu jenis minuman bagi para olahragawan (sport drinks) (Astawan, 2007).
Jumlah air per butir kelapa muda sangat bervariasi, tergantung dari ukuran buahnya. Secara umum kadarnya tidak kurang dari 250 ml per butir. Secara umum, air kelapa mengandung 4,7 persen total padatan, 2,6 persen gula, 0,55 persen protein, 0,74 persen lemak, serta 0,46 persen mineral (Astawan, 2007). Beberapa jenis kelapa ada yang memiliki kadar gula sebesar 3 persen pada air kelapa tua dan 5,1 persen pada air kelapa muda, sehingga air kelapa muda berasa lebih manis daripada air kelapa tua. Asam amino yang banyak terkandung pada air kelapa adalah asam glutamat, arginin, leusin, lisin, prolin, asam aspartat, alanin, histidin, fenilalanin, serin, sistin dan tirosin. Vitamin yang banyak terkandung pada air kelapa adalah vitamin C, asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, riboflavin dan asam folat (Astawan, 2007).
Jenis mineral terbanyak yang terdapat pada air kelapa adalah potasium (kalium). Mineral lain yang terdapat dalam jumlah yang cukup banyak yaitu kalsium, magnesium dan klorida, sedangkan dalam  jumlah sangat sedikit adalah sodium (natrium) (Astawan, 2007).
2.4  NaCl 0,9%
Natrium klorida, yang juga dikenal sebagai garam meja, atau garam karang, merupakan senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium klorida adalah garam yang paling penting berperan penting salinitas laut dan dan dalam cairan ekstraselular dari banyak  aorganisme multiseluler. Garam sangat umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet. Natrium klorida adalah garam yang terbentuk Kristal atau bubuk berwarna putih. NaCl dapat larut dalam air tapi tidak larut dalam alcohol. NaCl juga merupakan senyawa natrium yang berlimpah di alam.
Natrium klorida digunakan dalam proses kimia untuk skala besar produksi senyawa yang mengandung sodium dan khlor. Sejak akhir abad ke-19, pada waktu proses elektrolisis secara besar-besaran diperkenalkan, telah dapat dibuat bermacam-macam senyawa dengan bahan baku NaCl, misalnya hidroksida, asam klorida, natrium karbonat, natrium sulfite dan senyawa senyawa lainnya.
Normal salin atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan fisiologis, non toksik tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 gram dengan osmolitas 308 mOsm/1 setara dengan ion-ionNa+154mEq/1dan C1 154 mEq/1 (InETA , 2004:16;ISO Indonesia, 2000:18)
Natrium klorida 0,9% adalah larutan fisiologis yang ada diseluruh tubuh, karena alasan ini, tidak ada reaksi hipersentivitas dari natrium klorida. Normal salin  aman digunakan untuk kondisi apapun(Lilley dan Aucker, 1999). Natrium klorida mempunya Na dan Cl yang sama seperti  plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson, 1992). Natrium klorida tersedia beberapa konsentrasi yang paling sering digunakan natrium klorida 0,9% ini adalah konsentrasi normal dari natrium klorida dan untuk alasan ini natrium klorida disebut juga normal salin (Lilley & Aucker, 1999). Natrium klorida 0,9% merupakan larutan isotonik aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah.
Sodium Klorida ( NaCl ) secara umum digunakan untuk irigasi ( seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka ). Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. ( DI 2003 hal 2555 ).
Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi, sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan mudah.( Ansel hal 399 )
2.5  Peranan Air Kelapa dan NaCl 0,9% Terhadap Proses Penyembuhan Luka
2.5.1     Air kelapa
Secara alami, air kelapa mudah memiliki komposisi mineral dan gula yang sempurna sehingga punya keseimbangan elektrolit yang sempurna pula, sama halnya dengan cairan tubuh manusia. Itu sebabnya mengapa air kelapa dapat digunakan sebagai pengganti cairan infuse. Nutrisi yang terkandung dalam air kelapa terdiri dari karbohidrat, vitamin, mineral, proterin, lemak, dan air.
Secara khusus, air kelapa kaya akan potasium (kalium). Selain mineral, air kelapa juga mengandung gula (bervariasi antara 1,7 sampai 2,6 persen) dan protein (0,07-0,55 persen), 0,74 persen lemak, serta 0,46 persen mineral  Maka dari itu komposisi gizi yang terkandung dalam Air Kelapa sangat membantu untuk mempengaruhi proses penyembuhan luka.
2.5.2     NaCl 0,9%
Cairan NaCl 0,9% sangat baik digunakan pada fase inflamatori dalam proses penyembuhan luka karena keadaan lembab invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit, dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini.
2.5.2.1   Suasana lembab yang diciptakan dari kompres NaCl 0,9% dalam merawat luka dapat mempercepat terbentuknya stratum corneum dan angiogenesis untuk proses penyembuhan luka.
2.5.2.2   Pada fase proliferatif dalam fisiologis penyembuhan luka, cairan NaCl 0,9% yang digunakan perawatan luka sangat membantu melindungi granulasi jaringan agar tetap lembab sehingga membantu proses luka.
2.5.2.3   Cairan NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis yang tidak berbahaya untuk perawatan luka.
2.6 Kerangka Teori
Berdasarkan teori yang dipaparkan diatas berdasarkan beberapa literature, dapat diketahui bagaimana Air kelapa dan NaCl 0,9% yang memiliki komposisi dan konsentrasi cairannya yang hampir sama dengan cairan tubuh sangat berpengaruh didalam proses penyembuhan luka sehingga dapat disusun kerangka teori sebagai berikut :


Skema 2.1
KERANGKA TEORI
AIR  KELAPA

NACL 0,9%

- Fase Inflamsi
- Fase Proliferasi
- Fase koagulasi
- Remodeling


PENYEMBUHAN LUKA

 










Dalam keadaan luka, jaringan tubuh terganggu kebutuhannya dan memerlukan nutrisi. Nutrisi menjadi salah satu dari beberapa factor yang memepengaruhi penyembuhan luka. Kandungan nutrisi yang terdapat pada Air kelapa seperti vitamin C, asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, riboflavin dan asam folat, dan juga mineral yang terdapat pada NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis yang tidak berbahaya untuk perawatan luka yang meliputi fase koagulasi dan inflamasi, fase proliferasi, dan fase remodeling. Dengan terpenuhinya nutrisi dalam setiap fasenya, maka penyembuhan luka akan semakin cepat dan optimal.
2.7 Hipotesis
            Hipotesis adalah pernyataan awal peneliti mengenai hubungan antar variable yang merupakan jawaban peneliti tentang kemungkinan hasil penelitian. Didalam pernyataan hipotesis terkandung variabel yang akan diteliti dan hubungan antar variabel-variabel tersebut.
            Berdasarkan latar belakang penelitian, maka hipotesis penelitian ini adalah “ terdapat perbedaan percepatan proses penyembuhan luka antara penggunaan Air Kelapa dan NaCl 0,9% pada binatang percobaan, tikus putih ”.








BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL

3.1    Kerangka Konsep
                  Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian(Hidayat, 2012). Berdasarkan kerangka teori yang ada, maka kerangka konsep yang digunakan sebagai berikut :
Skema 3.1
Kerangka Konsep

Variabel Independen                                              Variabel Dependen
Proses Penyembuhan Luka

AIR KELAPA

NaCL 0,9%

 







Air kelapa dan Nacl  sama-sama mengandung mineral,  maka dari itu sangat membantu untuk mempengaruhi proses penyembuhan luka.


3.2    Variable Penelitian
Variabel  dari penelitian ini dibagi menjadi dua variable yaitu variable dependent dan variable independent :
3.2.1     Variable Bebas (Independen)
Variable bebas (independent) dalam penelitian ini adalah penggunaan Air Kelapa dan NaCl dengan menggunakan Kompres
3.2.2      Variable terikat (Dependent)
Variable terikat (dependent) dalam penelitian ini adalah proses penyembuhan luka
3.3    Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2012). Definisi operasional dalam penelitian ini menggunakan variable bebas dan variable terikat.
Adapun penjelasan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :





                     
Tabel 3.3
Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Oprasional
Hasil ukur
Skala
1
Air kelapa (Cocos nucifera)
Air kelapa adalah cairan yang ada di dalam buah kelapa, air kelapa  yang digunakan untuk proses penyembuhan luka dengan menggunakan kompres pada daerah luka yang dilakukan selama 2 hari sekali.
Luas permukaan luka dari besar sampai kecil

Skala kontinu
2.
Nacl (Natrium Clorida)
Nacl adalah larutan fisiologis yang ada diseluruh tubuh, Nacl  yang digunakan dalam proses penyembuhan luka dengan menggunakan  kompres pada daerah luka yang  dilakukan selama 2 hari sekali.
Luas permukaan luka dari besar sampai kecil
Skala kontinu
3.
Penyembuhan Luka
Di mulai dari permukaan luka yang luas, sampai permukaan luka mengecil, sehingga permukaan luka tertutup dan jaringan pada kulit menyatu kembali.

Hari -Sembuh
Skala Kontinu
















BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang jenis dan rancangan penelitian, lokasi, sampel, rencana pengolahan dan analisa data, instrument penelitian, rencana kegiatan, dan etika penelitian.
4.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
            Rancangan penelitian adalah mencatat perancangan dari cara berpikir dan merancang suatu strategi untuk menemukan sesuatu (Babbie, 1995 dalam Prasetyo & Jannah, 2005). Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian eksperimen semu (Quasi Experimen), bentuk rancangan yang digunakan “Post test only design”.
            Rancangan percobaan yang digunakan berbentuk postest only design. Dalam rancangan ini diperlakukan atau intervensi telah dilakukan (x), kemudian dilakukan pengukuran (observasi) atau postest (02). Rancangan ini sering disebut juga “The One Shot Case Study”. Hasil observasi ini (02) hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif.
Berikut adalah bentuk rancangan dari postest only design :




Tabel 4.1
Rancangan  Postest  Only Design
Eksperimen
Postest
X
02
X
02

Hewan percobaan adalah tikus putih yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu satu kelompok dengan perlakuan menggunakan Air Kelapa dan satu kelompok dengan perlakuan menggunakan NACL. 
4.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak. Peneliti memilih tempat ini karena adanya fasilitas keperawatan, untuk menunjang proses penelitian, mudah untuk dijangkau, aman, dan suhu ruangan yang mendukung, sehingga hasil penelitian diharapkan  lebih akurat.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1     Populasi
Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Hidayat, 2012). Populasi (hewan percobaan) adalah tikus jantan (Rattus Norvegicus Strin Wistar) yang berasal dari Laboratorium Penelitian STIK Muhammadiyah Pontianak.
4.3.2     Sampel
Sampel  merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2012). Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik quota sampling. Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel secara quotum atau jatah. Teknik sampling ini dilakukan dengan cara : pertama-tama menetapkan berapa besar jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan quotum (jatah). Kemudian jumlah atau quotum itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan. Anggota populasi manapun yang akan diambil tidak menjadi soal, yang terpenting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi (Notoatmodjo, 2010).
Berdasarkan teknik quota sampling maka yang akan dijadikan sampel penelitian ini adalah  tikus putih dengan jumlah 10 ekor dengan berat badan minimal 100 gram, dengan masing-masing tikus dibuat 4 perlukaan untuk diberikan intervensi.
4.4  Prosedur Penelitian
      Prosedur membuat luka :
1)    Tikus diambil dari kandang dengan cara memegang ekor tikus pada 1/3 proximal ekor. Jari telunjuk dan jari tengah melingkari daerah kuduk. Jari manis dan ibu jari melingkar didaerah dada.
2)    Menuangkan larutan eter secukupnya kedalam box tertutup, kemudian masukkan tikus tunggu hingga cukup mudah untuk dipegang.
a)    Tikus dipegang dengan benar. Diletakkan diatas meja.
b)    Memberikan injeksi Phenobarbital 0,05 cc Intramuscular pada perut tikus. Jarum ditusukkan dengan sudut tegak lurus terhadap permukaan kulit sehingga tusukan sampai ke otot  abdominalis. Lalu suntikan phenobarbital, tarik jarum, tempatkan suntikan dipijat pelan-pelan.  
c)    Membersihkan rambut disekitar daerah yang akan dilukakan perlukaan pada daerah perut dan punggung dengan menggunakan gunting dan pencukur rambut.
d)    Melakukan sayatan pada sekitar daerah lateral punggung sisi kiri dan sisi kanan, dengan menggunakan gunting jaringan dan pinset sirugis. Setelah itu luas luka diukur, berat badan di ukur,dan berat dressing juga di ukur.
e)    Melakukan pembersihan luka dan pemberian jenis dressing.
f)     Luka dibalut dengan kasa steril.
g)    Melakukan penggantian balutan 1 atau 2 kali sehari dan perawatan luka 2 hari sekali dengan memberikan Air kelapa dan NACL.
4.5 Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini, tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi experimental. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : tabel scor perkembangan luka, kamera, gunting, pinset, timbangan, alat cukur. Alat untuk mengukur panjang luka dengan menggunakan penggaris. Pengukuran luka dilakukan setiap ganti balutan agar dapat mengevaluasi luka yang telah dibuat,  balutan diganti tiap dua hari sekali sampai dua minggu, karena secara teori penyembuhan luka mencapai sekitar waktu tersebut. Bahan habis pakai berupa alat-alat dressing : kasa steril, handscoon, hypafix, spuit, phenorbarbital, NaCl dan Air kelapa.
4.6  Analisa Data
Langkah-langkah yang digunakan untuk mengolah data yang telah diperoleh adalah sebagai berikut :
1)    untuk mengetahui seberapa besar perkembangan proses penyembuhan luka pada tikus sesudah mendapat perlakuan pada masing-masing kelompok, maka setiap kelompok perlu dianalisis dengan statistik deskriptif berdasarkan nilai rata-rata (x) dan standar deviasi (s) dengan menggunakan rumus :  
keterangan :
            :  Nilai rata-rata scor luas luka
         :  Jumlah nilai score luas luka
n            :  Jumlah Luka
Dengan Rumus :
Keterangan :
s     :  Standar deviasi
  :  Jumlah nilai score luas luka
n     :  Jumlah Luka
2)    Setelah diketahui mean dan standar deviasi dari masing-masing kelompok,  selanjutnya dianalis dengan uji statistik yang tepat yaitu Uji Beda Dua Mean Independen. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui perbedaan mean dua kelompok data independen dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)    Menentukan hipotesis nol
(Ho; σ1²= σ2²) varian kelompok air kelapa sama dengan varian kelompok nacl
b)   Menentukan hipotesis alternatif
 (Ha: σ1²= σ2²) varian kelompok air kelapa berbeda dengan varian kelompok nacl.
c)    Menentukan Uji Homogenitas Varian.
Prinsip pengujian dua mean adalah melihat perbedaan variasi kedua kelompok data. Oleh karena itu, dalam pengujian ini diperlukan informasi apakah varian kedua kelompok yang di uji sama atau tidak, karena akan berpengaruh pada standar error yang akan membedakan rumus pengujiannya. Perhitungan uji homogenitas dengan menggunakan uji F.
df1 = n1 dan df2 = n2-1
Varian yang lebih besar sebagai pembilang dan varian yang kecil sebagai penyebut.
a)    Uji untuk varian sama
T 
                          Sp² = 
df  = n1+n2-2
X1 = rata-rata kelompok 1.
X2 = rata-rata kelompok 2.
n1 atau n2 = jumlah subjek kelompok 1 atau 2
S1 atau S2 = standar deviasi kelompok 1 dan 2

b)    Uji untuk varian berbeda
T
                         df   = 
df= n1+n2-2
n1 atau n2= jumlah subjek kelompok 1 atau 2
S1 atau S2= standar deviasi kelompok 1 dan 2
4.7 Rencana kegiatan Jadwal
Tabel 4.1 Waktu dan Rencana Kegiatan
      
No
Kegiatan
      April 
Juli
Sept & Okto
Nov & Des
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pengajuan Judul















2
Bimbingan Menyusun proposal










3
Bimbingan riset















4
Pengumpulan Data















5
Analisa Data















6
Penulisan Laporan















7
Pengumpulan Penelitian















4.8  Etika Penelitian
Hewan percobaan, memahami cara memperlakukan hewan percobaan dan cara menggunakan kembali Setiap penelitian laboratorium yang menggunakan hewan percobaan hendaknya mengetahui etika penelitian yang menyangkut masalah petunjuk pemeliharaan dan penggunaan hewan yang telah digunakan. Hewan percobaan harus diberi makanan yang sesuai  dan diberi minum (Sulaksono, 2008).
Penelitian yang melibatkan hewan harus memperhatikan akibat negatif yang mungkin dialami hewan, seperti indra melemah, menyendiri, kelaparan dan penggunaan bahan ekstrim (listrik, bahan kimia).
Cara perlakuan terhadap hewan laboratorium yang sesuai dengan ketetapan standar etik penelitian keperawatan STIK Muhammadiyah Pontianak adalah aturan-aturan, prosedur-prosedur dan praktik di laboratorium yang cukup untuk menjamin mutu dan intensitas data analitik yang dikeluarkan oleh laboratorium tersebut.
Penggunaan hewan percobaan bertujuan untuk mendapatkan data secara invivo terhadap efek yang terjadi, serta kekuatan yang dimiliki dari bahan biologis yang diperiksa. Menurut Sulaksono (2008) hewan percobaan yang digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :
1)    Sedapat mungkin hewan percobaan yang akan digunakan bebas dari kuman patogen, karena dengan adanya kuman patogen pada tubuh hewan sangat mengganggu jalannya reaksi pada pemeriksaan, dan dari segi ilmiah hasilnya kurang dapat dipertanggung jawabkan.
2)    Mempunyai kemampuan dalam memberikan reaksi imunitas yang baik. Hal ini ada hubungannya dengan persyaratan pertama.
3)    Kepekaan terhadap suatu penyakit. Hal ini menunjukkan tingkat suseptibilitas hewan terhadap penyakit.
4)    Performan atau prestasi hewan percobaan yang dikaitkan dengan sifat genetiknya.
5)    Perlakuan yang dilakukan pada hewan percobaan (tikus putih) meliputi:
a)    Lantai dari kandang ditaburi serbuk kayu.
b)    Makanan yang diberikan adalah jenis makanan hamster, dengan air minum adalah air aqua.














DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2012. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.  Edisi 2. Salemba medika: Jakarta
Dharma, kelana Kusuma. 2011. Metodologi penelitian keperawatan. Cv. Trans info media: Jakarta
Tawi, Mirzal. 2008. Proses Penyembuhan Luka. Diakses pada tanggal 25 Juli 2011 melalui http://syehaceh.wordpress.com/proses-penyembuhan-luka
Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius : Jakarta
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Sastroasmoro, S. (2011). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, edisi ke-4. CV. Sagung Seto : Jakarta.
Sulaksono, M. E. (2008). Dilema pada hewan percobaan untuk pemeriksaan produk biologis. Pusat Penelitian Penyakit Menular. Badan Penelitian dan Pengembangan  Kesehatan RI: Jakarta.  http://www.scribd.com/doc/29693259/Dilema-Pada-Hewan-Percobaan# diakses tanggal 10 Oktober 2012.
Suriadi. (2007). Manajemen luka. STIKEP Muhammadiyah. Pontianak
Machfoedz, I. (2010). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif bidang kesehatan, keperawatan, kebidanan, kedokteran. Fitramaya: Yogyakarta.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar